1

[Reblog] Baca Dulu Sebelum Menyesal Jadi (C)PNS!

Mumpung pendaftaran cpns sedang hot-hotnya, silahkan artikel berikut dibaca dulu.

Bukan mau menjelekkan instansi, tapi tulisan ini cukup menggambarkan apa yg bakal kita hadapi setelah seleksi berakhir. Bukan juga ingin menggurui, kami cuma ingin membagikan informasi, yang mungkin belum pernah diketahui oleh teman-teman pelamar seleksi cpns.

Saya pribadi & penulis artikel ini sudah cukup bersyukur bisa diterima di instansi kami. 🙂

Sekian pengantar dari saya. Selamat pagi, selamat menjalani hari, selamat berjuang wahai calon abdi negara. Semoga sukses. 🙂

http://tiarmenulis.blogspot.com/2014/08/baca-dulu-sebelum-menyesal-jadi-cpns.html?m=1

Status
0

Walopun sekarang cuma boleh ngebayangin beli ini beli itu dan harus jauh-jauh dari gaya hidup hedon, tapi saya nggak nyesel milih jadi abdi negara. Jadi abdi negara itu bisa lebih banyak belajar bersyukur. Bersyukur masih bisa diberi nikmat kecukupan sama Allah. Nggak lebih, tapi cukup. Cukup makan, cukup sandang, cukup papan.

Maka nikmat Rabb-mu mana yang ingin kau dustakan, wahai abdi negara? ☺

0

Hari Kedua di KPKNL Ambon yang Melankolis

Hari kedua di KPKNL Ambon ini saya mulai dengan rasa sendu & melankolis (ceileh bahasanyaa..). Padahal kemarin saya baik-baik saja, deg-degan tak henti-henti malah kemarin. Tapi hari ini beda.

Di mulai dari mimpi semalem yang menggambarkan saya sedang duduk bareng Kak Ane, Aul, Mbak Ambar, Mbak Adel, Mas Latho, Mas Fiqi, Mbak Titis, dan lainnya di Kantin Perben sembari menunggu makanan yang kami pesan. Entah mimpi itu menggambarkan apa. Saya yang kangen makan di Perben kah, atau kangen makan bareng temen-temen kah, atau kangen sama kebersamaan yang kami pupuk selama 7 bulan kemarin. Entahlah. Yang jelas, subuh tadi rasanya sediiiih banget.

Awan mendung saya berlanjut hingga di kantor (walopun di luar gak hujan sama sekali).

Sampai di kantor, saya berusaha untuk melupakan mimpi semalem. Tapi apa daya, pas lagi sendirian di ruangan, tiba-tiba di luar ada sekumpulan orang yang dengan riuhnya menyanyikan lagu “hoaeo… hoaeo… hoaeo… hoaeo…”. Jadilah saya kembali gloomy, kembali merasakan 72-sick (ini istilah abal-abal yg maksudnya mirip sama kata homesick).

Saya kangen temen-temen saya. Saya kangen Angkatan 72.

0

The Last Day in Kantor Pusat DJKN

Nggak terasa udah 7 bulan saya magang di DJKN, di bagian Organisasi dan Kepatuhan Internal (OKI). Dan nggak terasa juga, hari ini jadi hari terakhir magang di sini. Sebenernya status saya bukan pegawai magang lagi, tapi karena saya belum berada di kantor definitif saya, maka saya masih menggunakan istilah magang.

Awal masuk ke Kanpus DJKN, rasanya deg-degan pake banget. Saya merasa cupu masuk ke gedung perkantoran yang di liftnya ada karpet yg diganti tiap hari sesuai dengan hari tersebut. Saya juga merasa canggung pas ikutan acara penyambutan pegawai baru di Aula Kanpus DJKN di lantai 5. Aulanya cantik, bersih. Saya juga masih ingat kalo saya masih malu-malu pas kenalan sama temen-temen baru, temen-temen yg akhirnya jadi saudara-saudara baru untuk saya.

Awal masuk ke Bagian OKI juga begitu. Saya malu-malu, grogi, dan deg-degan. Dalam hati saya, saya bilang, “Ohh begini toh ruangan kantor di Kementerian Keuangan.” Bawaannya masih takut-takut gitu, soalnya di kantor lama saya, ruangan kerja dan tumpukan kerjaan di tiap meja nggak kayak di sini. Untungnya pas di OKI ada temen magang-ers juga, ada Aul, Mba Ambar, Indro, dan Erik. Tapi 3 hari setelah magang, si Erik ditarik ke TP-HK.

First thing yg bakalan saya ingat dan berat untuk tinggalkan dari OKI adalah, temen-temen seruangan yg ramah-ramah & welcome banget waktu kami pertama masuk. Pas masuk ke OKI, Alhamdulillah saya kenalan dengan Kak Pita, temen seruangan yang ternyata satu kampung dengan saya, dari Sulawesi Selatan. Beliau itu juga masih jadi pegawai magang saat kami masuk. Dan karena saya sksd & kenalan sama Kak Pita, Alhamdulillah saya akhirnya bisa tinggal di kosan yang pewe banget. Selain Kak Pita, ada Kak Ines juga yang aslinya dari Makassar, sayangnya beliau nggak di OKI, tapi di ruangan depan OKI, di TP-OKN.

Selain Kak Pita dan Kak Ines, saya (kami) saat itu juga kenalan dengan Pak Adi (saat itu beliau baru menjabat sebagai Kabag OKI menggantikan Pak Kabag sebelumnya yg mutasi dan acara perpisahannya tepat saat kami masuk ke OKI), Pak Endi, Pak Taufik, Mas Herman, Mas Suryo, Mbak Tia, Mas Doni, Mas Fahmi, Mas Ichwan, Mas Sena, Mas Anton, Mbak Erike, Mbak Eka, dan Devi (temen seangkatan kak Pita). Tapi selama 7 bulan magang, kami di OKI kedatangan temen-temen baru, ada Mas Ipin, Pak Naf’an, Mas Ryan, Mas Apri, Mas Romas, Mbak Fitri, Mas Sukoco, dan Tesya (anak KKN dari UI).

Ahh.. Kalau mau diceritain gimana rasanya magang di OKI, sepertinya gak bakalan sempat untuk ditulis saat ini. Waktu saya mepet. Sekarang sudah pukul 11.12, dan saya bakal pamitan jam 11.30. Duh sedihnya. 😥

Intinya selama magang saya merasa senang. Saya senang bisa ditempatkan di OKI, bisa kenalan dengan rekan-rekan kerja yg baik-baik. Ahh.. mata saya mulai lebay ini. Cukup sekian aja deh ngetiknya.

Terima kasih teman-teman bagian OKI dan TP yang telah menampung saya di lantai 7 selama 7 bulan. Maaf kalau selama 7 bulan ini saya melakukan kesalahan, baik yang sengaja ataupun nggak sengaja, sadar ataupun nggak sadar.

I’m gonna miss this place so bad. T_T

0

Antologi Suara

Suara suara, dari yang ada maupun yang telah tiada, merepet menyesakkan, riuh rendah menggumamkan sebuah nama, nisa..
Suara suara, dari yang telah tiada, menari-nari, menebar getir, mengukir pahit, rindu. Namun suara mereka teredam lupa.
Suara suara, dari mereka yang masih ada, berenang-renang mencipta gelombang, rindu. Namun suara mereka tergerus masa.
Suara suara, berdengung di belakang kepalanya, seperti sekumpulan lebah yang siap menyengat ingatannya.
Suara suara, berdengung tapi tak kunjung menyengat, malah teredam lupa pun tergerus masa.
Suara suara, tak lagi riuh, cuma berbisik, membisikkan namanya, seperti hantu di benak pengidap schizophrenia.

*tulisan di atas telah saya kicaukan di twitter, 02 September 2013
Rasa kangen kepada Almarhum Nenek & Kakek yg teramat dalam lah yang menghasilkan postingan ini.
Semoga di alam sana, kalian bisa melihat anak bandel ini sudah beranjak dewasa, mak, pak. Terimakasih atas kasihsayangnya sedari dulu. I miss you, mak, pak..

0

Tentang Fitnah-Fitnah itu

Cerpen FAHD PAHDEPIE

“Kiai, maafkan saya! Maafkan saya!” Aku tersungkur-sungkur di kaki Kiai Husain. Aku memegangi dua tungkai kakinya yang kurus. Aku berusaha merendahkan kepalaku sedalam-dalamnya. Tetes-tetes air mata mulai menerjuni kedua tebing pipiku. “Maafkan saya, Kiai… Maafkan saya…” Aku terus-menerus mengulangi kalimat itu.

Dua tangan Kiai Husain memegang lengan kiri dan kananku, “Bangunlah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

“Tapi, Kiai…” Aku terus berusaha merendahkan diriku di hadapan Kiai Husain yang sedang berdiri, “Bagaimana mungkin semudah itu? Bagaimana mungkin semudah itu?”

Kali ini Kiai Husain mencengkram kedua bahuku dan berusaha mengangkat tubuhku, “Berdirilah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

Dengan lunglai, aku berdiri. Aku terus menundukkan wajahku. “Bagaimana mungkin semudah itu, Kiai?” Aku terus mengulangi ketidakpercayaanku.

Kiai Husain tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau akan belajar dari semua ini,” katanya, “Apapun yang telah kau katakan tentangku, tak akan mengubah apapun dari diriku.”

Aku terus menundukkan kepalaku. Aku didera malu luar biasa oleh sosok yang dalam beberapa minggu belakangan bahkan beberapa bulan terakhir ini kujelek-jelekkan secara membabi-buta. Bukan hanya membicarakan hal-hal buruk darinya: kiai palsu lah, kiai partisan lah, kiai liberal lah—bahkan aku juga menyebarkan fitnah-fitnah keji tentangnya: Bahwa pesantrennya dibiayai cukong-cukong hitam, bahwa ia menganut aliran sesat, bahwa ia tak Ingin Islam maju, dan apapun saja yang bisa menjatuhkan harga diri dan nama baiknya.

Aku mentap Kiai Husain yang kini sedang merapikan beberapa kitab di rak-rak di ruang bacanya. Bagaimana mungkin selama ini aku tega menghina, menjelekkan dan memfitnahnya hanya gara-gara ia memiliki pilihan dan pendapat yang berbeda denganku? Padahal aku tahu hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama, waktu luangnya diisi dengan membaca al-Quran dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, dan kebaikan hatinya telah meringankan serta melapangkan banyak kesulitan orang-orang di sekelilingnya. Apalah aku ini dibandingkan kemuliaan dirinya? Siapalah aku ini dibandingkan keluhuran budi pekertinya?

Continue reading