0

Tentang Fitnah-Fitnah itu

Cerpen FAHD PAHDEPIE

“Kiai, maafkan saya! Maafkan saya!” Aku tersungkur-sungkur di kaki Kiai Husain. Aku memegangi dua tungkai kakinya yang kurus. Aku berusaha merendahkan kepalaku sedalam-dalamnya. Tetes-tetes air mata mulai menerjuni kedua tebing pipiku. “Maafkan saya, Kiai… Maafkan saya…” Aku terus-menerus mengulangi kalimat itu.

Dua tangan Kiai Husain memegang lengan kiri dan kananku, “Bangunlah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

“Tapi, Kiai…” Aku terus berusaha merendahkan diriku di hadapan Kiai Husain yang sedang berdiri, “Bagaimana mungkin semudah itu? Bagaimana mungkin semudah itu?”

Kali ini Kiai Husain mencengkram kedua bahuku dan berusaha mengangkat tubuhku, “Berdirilah,” katanya, “Aku sudah memaafkanmu.”

Dengan lunglai, aku berdiri. Aku terus menundukkan wajahku. “Bagaimana mungkin semudah itu, Kiai?” Aku terus mengulangi ketidakpercayaanku.

Kiai Husain tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Kau akan belajar dari semua ini,” katanya, “Apapun yang telah kau katakan tentangku, tak akan mengubah apapun dari diriku.”

Aku terus menundukkan kepalaku. Aku didera malu luar biasa oleh sosok yang dalam beberapa minggu belakangan bahkan beberapa bulan terakhir ini kujelek-jelekkan secara membabi-buta. Bukan hanya membicarakan hal-hal buruk darinya: kiai palsu lah, kiai partisan lah, kiai liberal lah—bahkan aku juga menyebarkan fitnah-fitnah keji tentangnya: Bahwa pesantrennya dibiayai cukong-cukong hitam, bahwa ia menganut aliran sesat, bahwa ia tak Ingin Islam maju, dan apapun saja yang bisa menjatuhkan harga diri dan nama baiknya.

Aku mentap Kiai Husain yang kini sedang merapikan beberapa kitab di rak-rak di ruang bacanya. Bagaimana mungkin selama ini aku tega menghina, menjelekkan dan memfitnahnya hanya gara-gara ia memiliki pilihan dan pendapat yang berbeda denganku? Padahal aku tahu hari-harinya dihabiskan untuk mempelajari ilmu agama, waktu luangnya diisi dengan membaca al-Quran dan mengerjakan ibadah-ibadah sunnah, dan kebaikan hatinya telah meringankan serta melapangkan banyak kesulitan orang-orang di sekelilingnya. Apalah aku ini dibandingkan kemuliaan dirinya? Siapalah aku ini dibandingkan keluhuran budi pekertinya?

Continue reading

Advertisements
2

Bagaimana Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahku?

Catatan di bawah ini pernah saya posting di notes Facebook saya. Catatan ini terinspirasi dari sebuah puisi indah karya Camilia Badr yang berjudul “I Wonder“.

tumblr_m53g1nZHtf1qc9yzbo1_1280

————–
Bagaimana Bila Rasulullah Bertamu ke Rumahku?

Bila,
suatu hari Rasulullah SAW datang mengunjungiku
barang sehari atau dua hari,
Bagaimana?

Bila,
Rasulullah SAW yang sangat mulia itu datang,
dengan tiba-tiba,
tanpa pemberitahuan
mendatangi kediamanku,
Bagaimana?
Continue reading

0

HIJRAH

62192_10151244067704800_274933756_nHijrah secara bahasa berarti berpindah. Sedangkan secara sejarah, hijrah berarti suatu peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, dari Mekkah menuju Yastrib (Madinah). Syarat seseorang dikatakan berhijrah (sesuai makna hijrah secara bahasa) ada 2, yaitu ada yang ditinggalkan dan ada tujuannya.

Pada masa hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya dulu, mereka mempunyai satu tujuan yang menjadi dasar hijrahnya mereka, yakni mempertahankan akidah. Tidak hanya perpindahan fisik saja yang dilakukan, namun umat Muslim saat itu juga melakukan perpindahan/perubahan diri, dengan sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam yang telah diperintahkan oleh Allah dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Tulisan ini, mungkin akan membosankan bagi pembaca yang tidak menyukai artikel-artikel panjang. Hentikan membaca saat ini juga, sebelum mata anda lelah. Karena, saya akan mulai curhat lagi, tentang hijrah saya, fisik dan rohani. Dan yang masih betah membaca, saya tidak melarang anda untuk melanjutkan. Yang perlu saya ingatkan, saya bukan orang yang paham sekali tentang agama, saya baru mulai belajar. Dan yang akan saya ceritakan merupakan kisah dan hikmah yang bisa saya maknai selama proses belajar itu. Selamat membaca, and brace yourself..

Continue reading