My Engagement Day

Assalamu ‘alaikum~

Su lama seng bersua ya (udah mulai lancar bahasa Ambon ceritanye ^^;).

Ini adalah postingan pertama saya di tahun 2015 ini. Segala keribetan urusan kantor di awal tahun akhirnya dapat saya lewati dengan aman walaupun dengan penuh perjuangan fisik, mental, dan materi. 😀 Di awal triwulan kedua tahun 2015 ini, saya mau ngasih info penting (cuman penting untuk saya dan keluarga sebenernya sih.. hehe..).

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin..

Setelah 1 tahun 1 bulan 16 hari (26/02/2014) pertama kalinya bertemu dengan si Mas di Aula lantai 5 Gedung Syafruddin Prawiranegara (Kanpus DJKN), dan setelah 6 bulan 29 hari (13/09/2014) memutuskan untuk bersama-sama, pada 11 April 2015 kemaren, akhirnya kejelasan status hubungan kami sudah agak lebih jelas dengan adanya proses khitbah (secara Islam), atau yg secara adat dinamakan proses mappenre’ dui, alias tunangan versi umumnya.

Untuk mencapai tahapan ini, bukannya mudah. Prosesnya sulit, penuh lika-liku dan drama, dibanjiri air mata dan amarah, terjadi banyak negosiasi dan diujung acara akhirnya kami pun berucap syukur. Yap. Gak semudah itu mengangkat tema pernikahan kepada 2 keluarga besar kami. Keluarga besar yang masing-masing terpisah pulau. Kami di Ambon, keluarga besar saya di Makassar, orangtua saya di Tanjungpinang, dan keluarganya Mas di Pulau Jawa. Dan tidak semudah itu menyatukan pendapat mengenai tata cara tunangan menurut 2 suku yang berbeda, saya si gadis Bugis, dan Mas si pemuda Jawa.

Proses negosiasi kami kepada keluarga masing-masing yang membuat saya banyak mencurahkan airmata (ceilehh..). Kata orang sih ini baru permulaan. Persiapan untuk hari pernikahan nanti yang sebenarnya bakal lebih banyak menguras tenaga, duit, dan airmata (kata orang sih..). Negosiasi pertama dilakukan oleh saya kepada keluarga, lalu oleh Mas kepada keluarganya. Setelah menentukan hari dan tanggal, kami juga bernegosiasi mengenai siapa saja yang akan datang di acara tersebut, apa saja yang harus dibawa oleh keluarga Mas nanti (sesuai adat Bugis), apa saja yang bakal dibahas di acara nanti, dan hal-hal kecil lainnya yang bikin saya stres. Selain masalah negosiasi dengan keluarga, kami juga disibukkan dengan masalah kantor di awal bulan yang super sibuk. Di sela-sela kesibukan kantor, saya dan Mas menyempatkan diri mencari cincin passio (cincin tunangan) yang akan dipakaikan oleh keluarga Mas di jari manis kiri saya nantinya. Kesibukan dunia pribadi dan kerja akhirnya membuat saya beberapa kali drop, tapi Alhamdulillah, Allah yang Maha Penyayang telah mengirim si Mas yang setia menjaga saya saat sakit. Jadilah selama sakit, kerjaan dan urusan pribadi masih bisa kelar tepat pada waktunya.

Format acara tunangan kami ini sebenarnya adalah gabungan dari 3 prosesi adat pernikahan Bugis yang seharusnya dilakukan jika akan menikahkan seorang gadis Bugis. Prosesi adat yang digabung tersebut, antara lain:
1. Mammanu’ manu’ alias proses kenalan antar keluarga. Proses ini adalah proses awal dalam proses pernikahan Bugis. Di dalam proses ini, kedua keluarga akan saling berkenalan satu sama lain, mencari informasi mengenai keluarga masing-masing, dan mencari kecocokan antar keduanya.
2. Mappetu Ada’ alias proses lamaran dan penentuan hari pernikahan serta penentuan uang pannaik alias dui menre alias duit nikah yg umumnya harus dikeluarkan oleh calon mempelai pria. Tahapan ini juga tahapan penting dalam prosesi pernikahan adat Bugis. Kalau di proses ini tidak terjadi kesepakatan, bisa jadi proses pernikahan ini dibatalkan.
3. Mappenre’ Dui alias proses pemberian uang nikah oleh keluarga si mempelai pria.

Nah, di dalam kasus saya, kedua keluarga besar kami belum saling mengenal, lokasi tempat tinggal yang saling berjauhan, daaan, kami berbeda suku dan adat yg membuat proses ini akhirnya digabung menjadi satu, untuk menekan biaya dan waktu. Coba deh bayangin kalo prosesi adat ini harus dijalankan satu persatu, bayangkan berapa banyak duit yg harus kami gelontorkan untuk acara-acara tersebut.

Menyatukan 3 proses adat tersebut bukannya membuat hati saya menjadi lebih lega, namun tetap saja saya stres setengah idup mikirin gimana nanti acaranya itu. Apa bakal lancar atau gimana. Secara, keluarga kami baru akan bertemu untuk pertama kalinya, dan bakalan langsung ngomongin masalah tanggal pernikahan. Apa nggak uwauw kalo macem gitu.

Dan sampai hari tunangan tersebut, saya masih stres walopun udah didandanin cantik-cantik sama sodara & sisterkeiks saya. Sampe-sampe kata sisterkeiks andalan saya saat hari pengkhitbahan saya kemaren,

Nikah itu anu baik, Nisa. Makanya setan selalu berusaha bagemana caranya na kasi gagal hal baik itu. Tapi ini anu baik, mau semua ji na kasi jadi itu orang-orang di depan. Janganmi takut. Banyak-banyak ko berdoa. Insya Allah adaji jalannya itu.

Entah kenapa, saat mendengar nasihatnya, saya mulai agak sedikit tenang, dan akhirnya pasrah. Walopun masih galau juga di kamar, menunggu hasil diskusi yg kedengarannya cukup alot di luar kamar.

Tapi ternyata diskusi gak sealot yg saya bayangkan. Karena Alhamdulillah, tidak sampai setengah jam kemudian, tante saya masuk ke dalam ruangan dan mengatakan semuanya sudah selesai. Waktunya sudah ditetapkan.

Alhamdulillah.

Gak lama setelah itu, seorang perwakilan keluarga saya dan perwakilan dari keluarganya Mas, masuk ke dalam kamar dengan membawa Uang Pannaik dan Cincin Passio. Setelah mereka masuk, Mbak Nina (Iparnya Mas) kemudian memakaikan Cincin Passio (Cincin Pengikat) ke jari manis kiri saya dan menyerahkan uang pannaik yang jumlahnya telah disepakati bersama. Setelah acara pemakaian Cincin Passio dan penyerahan Uang Pannaik/Dui Balanca/Uang Pesta tersebut, acara selanjutnya adalah perkenalan dengan Keluarganya Mas (Mas Iyak & Mbak Nina). Ya walaupun cuma berdua aja datangnya, tetep saja saya berucap syukur kepada Allah karena bisa bertemu dengan keluarganya Mas.

Setengah jam kemudian, Mas Iyak & Mbak Nina segera pamitan karena mereka berdua harus segera pulang ke Surabaya. Kalo dihitung2 sih, Mas Iyak & Mbak Nina gak sampe setengah hari di Makassar, karena sebelumnya mereka ketinggalan pesawat pagi dari Surabaya dan terpaksa harus naik pesawat siang ke Makassar (sampenya jam 1-an), dan harus pulang ke Surabaya lagi dengan pesawat jam 7 malam. :’) *Terima kasih Mas Iyak & Mbak Nina atas perjuangannya untuk sampai di Makassar.

Keesokan paginya, saya, Vira dan P.Vita menyempatkan diri ziarah ke kuburan Nenek saya (maaf ya Mak, Annisa jarang berkunjung 😦 ). Setelah itu, kami (Saya, Mas, Tante Emmy, P.Vita, & Agung) pun berangkat menuju tempat penyewaan Baju Pengantin (gak tau nama vendornya apa, nanti lah ya saya list vendor2 apa saja yang saya pakai). Pakaian Pengantinnya cantik-cantik. Mata saya bersinar-sinar karena kemilau warna-warni baju pengantin. Si Mas juga ikutan terpana melihat Baju Pengantin yang bakal dia pakai nanti. Gimana gak terpana, soalnya itu pertama kalinya si Mas ngeliat langsung baju Pengantin khas Bugis. 😀

Setelah deal warna & harga sewa, kami pun cusss menuju Toko Kain Jangkrik (lupa nama jalannya). Di sana, lagi-lagi saya dan Mas terpana karena pesona keindahan kain dan brokat. Langsung deh pengen saya borong semua rasanya. Tapi sayang sungguh sayang, ternyata waktu itu kami hanya membeli kain seragam yang akan dibagikan ke keluarga kami. Sedangkan kain untuk saya rencananya bakal dibeli menjelang hari H. Kain untuk saya sih belum untuk dipakai pas acara nanti, tapi untuk isi erang-erang alias seserahan dari CPP ke CPW. 😀

Rasanya baru sebentar melihat-lihat kain di Jangkrik, padahal sudah hampir 3 jam kami disana dan gak rasa waktu untuk balik ke Ambon sudah tiba. Akhirnya, saya, Mas, P.Vita, dan Agung segera kabur ke Bandara untuk mengejar pesawat, sedangkan Tante Emmy masih asik di Jangkrik memilih kain. Untungnya kami nyampe di Bandara tepat waktu. Terima kasih kasi ngebut-ngebutan di jalan tol-nya, Gung. 😀

Setelah pamitan ke P.Vita, Agung, & P.Jaya (via telpon), kami pun cekin & beli oleh2 (gak sempet beli risolmayo & kroket kentang sulwesi T_T). 5 menit kemudian, kami pun boarding menuju Ambon.

Sekian kisah Engagement Day Express versi saya. Walopun minim persiapan dan minim dokumentasi, tapi tetep saja saya senang akhirnya bisa sampai di tahap ini.

Terima kasih Papa yang udah jauh-jauh datang dari Tanjungpinang demi anaknya ini (mama dan adek2 gak bisa datang soalnya bertepatan dengan masa ujian adek2), Mas Iyak & Mbak Nina yang udah jauh-jauh datang dari Situbondo, tante-tante dan om-om yang sudah jauh-jauh datang dari Bone, keluarga Sudiang (P. Jaya, Tante Emmy, P. Vita, Vira) yang sudah saya repotkan untuk persiapan acara ini, sepupu-sepupu yang jauh-jauh datang dari rumah masing-masing, dan semua pihak yang sudah membantu melancarkan acara ini.

Alhamdulillahirabbil ‘alamiin. Segala Puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Wassalam.

:’)

*nb: Berikut cuplikan dokumentasi yg cuma beberapa kali jepret itu. :’)

SISTERKEIKS (Eny, Saya, Lilis)

SISTERKEIKS
(Eny, Saya, Lilis)

Bareng Mbak Nina :D

Bareng Mbak Nina 😀

My Dearest Lil Engagement Ring <3

My Dearest Lil Engagement Ring ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s