Menjelang Berakhirnya Buku Tebal Berjudul: 2014

Tidak terasa, hari ini sudah lembar terakhir dari buku tebal berjudul 2014.

Alhamdulillah.

Segala puji bagi Allah, yang sampai saat ini masih memberikan saya kesempatan menikmati hidup di dunia. Menikmati nikmat iman yang masih dihidayahkan kepada saya, menikmati nikmat jiwa raga yang masih diberikan secara cuma-cuma kepada saya, menikmati nikmat pelajaran-pelajaran hidup yang datang silih berganti -pahit-manis-getir-bahagia, menikmati segala nikmat yang tampaknya tidak pernah bisa saya hitung apa saja yang telah Allah berikan kepada saya.

Maka nikmat Allah yang mana yang akan saya dustakan?

2014. Tahun yang memaksa saya melangkahkan kaki keluar dari zona nyaman bernama rumah.
2014. Tahun yang menguras energi jasmani dan rohani selama menjalani berbagai diklat dan kegiatan magang.
2014. Tahun yang mendorong saya membuat keputusan-keputusan besar untuk diri saya sendiri.
2014. Tahun yang membuat saya berpikir kembali akan makna, nekat-sabar-pasrah.
2014. Tahun yang menjadi turning point kehidupan asmara saya.

Menjalani tahun 2014 ternyata tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang lalu, yang cukup menyakitkan karena kehilangan orang terakhir yang bisa saya panggil nenek. Tapi, tahun ini tidak bisa dikatakan mudah untuk dijalani juga. Jika dibandingkan dengan tahun 2013, saya lebih banyak menangis di tahun ini, entah menangis sedih ataupun terharu karena bahagia. Walaupun lebih sering menangis, saya mensyukuri banyak hal di tahun ini. Dalam hal karir, saya bersyukur masih bisa menikmati pekerjaan saya saat ini. Dalam hal asmara, saya bersyukur bisa bertemu seseorang yang membuat saya akhirnya memutuskan ingin menitipkan hati saya di tangannya (plis jangan muntah dulu, dear pembaca). Dalam hal keluarga, saya bersyukur masih memiliki bapak dan ibu yang masih senantiasa mendoakan yang baik-baik untuk saya. Walaupun kami tidak selamanya bersisian dalam prinsip, but trust me, I love them very much. I mean it.

Segala kegalauan di 2014 ini semoga tidak muncul lagi di 2015 nanti. Saya ingin punya kisah baru yang lebih bahagia di 2015 nanti. Tapi walaupun segala cerita pahit di 2014 belum berubah jadi manis di penghujung tahun ini, saya percaya, Allah telah menyediakan gula untuk saya. Saya hanya butuh sedikit usaha lagi untuk melarutkan gula tersebut, biar akhirnya kisah saya berubah menjadi lebih manis.

Ya, saya harus berusaha sedikit lagi. Allah bersama saya setiap saat, dan Allah tidak mungkin membiarkan saya terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Saya percaya, Allah sudah menyiapkan gula dan segala macam pelajaran menarik di 2015 nanti. Insya Allah.

With Allah, it will be fine.
I will be fine, Insya Allah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s