Aku Bangga Masuk Diklat TU Kita!

Assalamu’alaikum, yorobeun~ ^^

Nisa watjyo~

Udah lama rasanya nggak nulis dan nge-post something di blog ini. Untungnya pas saya cek, sarang laba-labanya belum banyak. :’)

Beberapa bulan terakhir sejak postingan terakhir saya, saya disibukkan(?) oleh berbagai macam kegiatan magang dan diklat. Ya, akhirnya diklat yang saya nanti-nantikan sejak awal itu telah berlalu juga. Namun, bukan berarti setelah diklat DTU dan DTSD berakhir, masa-masa pembinaan mental dan fisik di Kemenkeu ini berakhir. Masih ada diklat terakhir sebagai C-CPNS ini yang harus saya lalui yaitu Diklat Pra Jabatan.IMG_1809

Jeng jeng!!

Tapi kali ini saya tidak ingin membahas Diklat Pra Jabatan yang belum saya lalui itu. Saya ingin menceritakan kronologis DTU (Diklat Teknis Umum) dulu, kemudian DTSD (Diklat Teknis Substansif Dasar) yang telah saya lalui sebelumnya.

Apapun yg saya ceritakan di bawah ini berdasarkan hasil ingatan saya dengan bahasa suka-suka saya. Saya tidak bermaksud meng-insult­ apalagi menyakiti siapapun yg saya sebutkan namanya di kisah ini. Saya cuma ingin berbagi memori suka duka masa diklat yg ada di kepala saya.

Brace yourself and happy reading, dear reader~

DTU Orientasi Pegawai Baru DJKN dijadwalkan mulai pada Senin, 07 April 2014 dan berakhir pada Rabu, 16 April 2014. Pada H-1 DTU, kami telah dititahkan supaya telah hadir dan berkumpul di Asrama Pusdiklat KNPK. Pada H-1 itu, saya dan teman-teman Roker (Rombongan Kereta) dari Jakarta berkumpul di Stasiun Tanah Abang untuk bersama2 naik kereta (ya iyalah di stasiun mau ngapain lagi kalo nggak naik kereta, neng? XD) menuju Stasiun Pondok Ranji. Hari itu juga merupakan kali pertama saya naik KRL. Hihi.. Saat di Stasiun TA, kami sudah menjadi pusat perhatian dikarenakan barang bawaan kami yang banyak (saya sendiri bawa koper, yang lain ada yang bawa tas jinjing, koper, ada juga yang hanya membawa ransel), dan juga tampilan fisik teman-teman cowok yang saat itu sudah berubah menjadi tuyul-tuyul ganteng (ceilehh..). Ya, teman-teman cowok ini memang diwajibkan plontos untuk DTU ini. Jadilah kami menjadi pusat perhatian, saat di stasiun dan di dalam kereta.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam (ya kali yaa..), akhirnya kami sampai juga di Stasiun Pondok Ranji. Untuk menuju Asrama Pusdiklat KNPK (yang ada di dalam wilayah Kampus STAN), kami menyewa 2 unit angkot (tiap orang membayar 3000 rupiah kalo gak salah ingat). Sesampainya di Asrama, kami melakukan pengecekan nama dan kamar dan juga registrasi di bapak-bapak Satpam Asrama KNPK. Ternyata, untuk DTU ini, saya masuk di deretan nama Angkatan II, angkatan terkeren sepanjang masa DTU, dan juga sekamar dengan teman sekamar paling cool sepanjang DTU, yaitu kak Ariane … … (nama lengkap disamarkan). Hihi..

Setelah mengatur barang di kamar masing-masing (saya dan Ane mendapat kamar terkeren sepanjang DTU, kamar 210), makan siang di Ayam Lepas, sholat Dzuhur, dan pemeriksaan kesehatan (di sini cuma ngecek tekanan darah & ditanyain tentang riwayat penyakit, riwayat pingsan, dsb), kami dikumpulkan lagi di halaman depan Asrama. Kami kira hanya berkumpul biasa, tapi ternyata, mimpi buruk kami telah dimulai (hihi.. nggak buruk2 amat sih sebenernya).

Kami berbaris menurut angkatan, saat itu ada 3 angkatan, masing2 angkatan ada 24 orang. Di angkatan II aka Kelompok B ada Kak ‘Siswa’ Cliff sebagai penjuru, Pak Ses Fiqi, Kak Tian yg mirip Pak Abraham, Kevin yg jenius, Ryan si agang se-Makassar, Mas Gofur si jammi, Toni yg bahagia selalu, Ican yg awet muda, Pandu yg tenang, Nagif yg sering hilang, Nathan yg ternyata pernah ke Makassar, Bang Sam sang ketua Geng, Kak Ane yg cool, Uni Rima alias Syahrima, Mba Adel yg comel, Mba Titis yg sangat sabar, Mba Pia sang Nyai, Danti yg punya Oppo, Mba Siti yg kangen suaminya, Bu Kanpus Zaza, Dara yg suka mikir, Dela yg sering hilang ke WC, Me, dan Aul si Kurang Satu!

Setelah berjejer rapi bagaikan ikan teri lagi dijemur :p, kami diberi pengarahan singkat oleh Bapak Kepala Bidang Penyelenggaraan, Bapak Marianto. Setelah pengarahan oleh Pak Marianto, pengarahan selanjutnya diberikan oleh 2 orang tentara, perwakilan dari Tim Arhanud, yang akan menjadi instruktur latihan fisik kami selama 10 hari ke depan, yaitu Pelatih Bayu dan Pelatih Bedrik. Sebenarnya pelatih kami ada 3, tapi saat itu Pelatih Supriyantono sedang berhalangan hadir.

Saat itu, kami disuruh memilih ketua kelas untuk masing-masing angkatan. Setelah tonjok-tonjokan, gontok-gontokan, dan berembuk mati-matian, akhirnya tidak ada yang berani menjadi ketua kelas. Haha.. Tapi akhirnya terpilih juga ketua kelas masing-masing angkatan (Ketua kelas Angkatan 1 & 2 ditunjuk oleh Pak Bayu, Ketua Kelas Angkatan 3 volunteer). Angkatan I dipimpin oleh Mas Budi dengan wakilnya Mbak Nisa (namanya sama kayak saya ^^), Angkatan II dipimpin oleh Bang Sam (ketua kelas terkeren sepanjang DTU ^^) dengan wakilnya Zaza (wakil terkeren sepanjang DTU ^^), dan Angkatan III dipimpin oleh Mbak Siska (yang kemudian hari digantikan oleh Bli Tusta, wakilnya).

Setelah pemilihan ketua kelas, diadakan lagi pemilihan petugas upacara pembukaan untuk esok harinya. Setelah seleksi yang cukup ketat, akhirnya terpilihlah beberapa orang sebagai petugas upacara, yaitu Mas Theo (Pemimpin Upacara), Uni Rima dan Mas Bowo (perwakilan siswa untuk pemberian nametag/simbolik pembukaan DTU), Liely (MC), Mbak Siska (Dirigen), dan Mas Edy (Pembaca Doa).

Setelah itu kami melaksanakan Gladi Kotor Upacara Pembukaan sampai menjelang maghrib. Setelah itu istirahat dan kembali berkumpul di ruang makan pada pukul 06.30 WIB. Nah, pada saat makan malam ini, mimpi buruk(?) terus berlanjut. Saya tidak mengira bahwa untuk makan malam pun, kami harus pakai acara duduk siap dan makan komando dengan kendali waktu. Tata cara makan seperti itu pernah saya alami pada jaman SMA, yaitu pada saat menjadi anggota Paskibra sekolah, dan makan komando(?) ini bukan hal favorit yang ingin saya ulangi. Tapi apa daya, dia kembali, men!

Kami diberikan waktu makan selama 30 menit (20 menit untuk mengambil makanan u/ 72 orang, dan 10 menit waktu makan) dan setelah itu, kami diberikan pengarahan lagi mengenai kedisiplinan selama diklat, apel pagi dan malam, petugas piket, dan sebagainya oleh Pelatih Bayu dan Pelatih Bedrik. Pengarahan berakhir pada pukul 10 lewat (udah lupa jam berapa zzz).

Malam pertama di asrama saya habiskan dengan tidur cepat. Sudah tidak sempat lagi ber-chitchat­ dengan teman kamar mengenai hal-hal berat. Padahal biasanya saya itu suka meracau dan membahas masalah berat sebelum tidur. XD

Hari pertama diklat diawali dengan sarapan pagi yang uwenakkk banget (untuk ukuran anak kost seperti saya). Setelah sarapan, kami mengikuti upacara pembukaan yang cukup menguras keringat. Setelah upacara, kami diberikan protab dan seragam olahraga berwarna oranye terang. Setelah itu ada acara Outbond yang diarahkan oleh Mas & Mbak yang keren-keren dari Tim Cherokee Adventure.

IMG_1864

Acara outbond ini seruuuu banget. Selama dua hari outbond, ada 12 games seru yang harus kami selesaikan. Tapi sebelum 12 games utama tersebut, ada acara perkenalan dulu dengan para trainer, dan setelah itu ada mini-games yang juga seru. Mini-games-nya itu ada yg berupa games nyari2 pasangan, kalau berdua itu judulnya boncengan naik motor-ini harus cowokcewek, kalau bertiga itu judulnya lampu merah(?)-ini harus 2 cowok 1 cewek, kalau berempat itu bunga kembang kuncup(?)-ini harus 2 cowok 2 cewek, dan kalau berlima itu judulnya mendayung di atas perahu(?)-ini 2 cowok 3 cewek. Seingat saya di sebelah kanan saya itu ada Mas Adit, di sebelah kiri saya ada Maruli. Games nyari2 pasangan ini seru karena di sini kami diuji ke-ROYAL-an kami kepada partner di kanan-kiri kami. Namun ternyata setia itu susah, harus sikut kanan-kiri untuk berebut pasangan, dan akhirnya setelah memakan banyak korban, pemenang kesetiaan di games ini pun terpilih yaitu, Liely & Erik. ^^

IMG_1910DSC_0282

Selain games nyari2 pasangan, ada juga games yang kita disuruh nutup mata terus pura2 jadi ninja, nah korban games ini adalah Dina. Ada juga games yang kita disuruh pura2 jadi tupai dan ada 2 orang yg disuruh jadi pohon. Di sini chaos banget kayaknya, soalnya ada beberapa instruksi yg membuat kami harus lari keliling lapangan demi mendapat tim. Misalnya nih ya, Instruksi 1: tupai ganti sarang. Nah kalo instruksinya begini, peserta yang jadi tupai harus segera mencari sarang lain untuk dijadikan tempat bersemayam. Instruksi 2: ada banjir! Nah di sini si tupai harus diangkat oleh 2 orang “pohon” supaya si tupai nggak tenggelam (ceritanya begono..), dan instruksi2 aneh lainnya yg sulit saya jabarkan lewat ketikan keyboard ini.

Nah, kita masuk dengan games inti. Games inti untuk hari pertama ada 6 games dan hari kedua ada 6 games juga. Kami ber-72 kemudian dibagi menjadi 6 kelompok. Saya terpilih masuk ke dalam kelompok ter-anti-mainstream versi On The Spot. Kelompok kami itu terdiri atas saya sendiri, Zaza, Mbak Tiar, Mbak Siska, Dina, Mbak Titis, Bli Tusta, Pandu, Putra, Kak Cliff, Nagif, dan Mas Satrio. Kami menamakan diri kami kelompok Teletubbies karena kami itu lucu2, imut, unik, peace, love, and gaul gila.

Seingat saya, games hari pertama itu ada:

  1. Memindahkan/melempar bola plastik ke teman yang ada di sebelah kanan dengan menggunakan tangan kanan dan menerima bola dari teman yang ada di sebelah kiri dengan tangan kiri, dan sebaliknya. Di games ini kami gagal, kami masih gampang ter-distract karena masih belum percaya satu sama lain. Di sini kerjasama, kekompakan, dan kesabaran kami diuji sebagai satu kesatuan tim. Sebenarnya di semua games intinya sama, melatih dan mengasah kerjasama tim.
  2. Melintasi pipa-pipa dengan mata tertutup dengan mengikuti instruksi teman yang terancam jiwanya karena bakalan tersiram seember-penuh air dingin. Di games ini juga gagal, hanya Mbak Siska dan partner-nya saat itu yang berhasil melewatinya. Di sini yg diasah adalah cara berkomunikasi kami dan lagi-lagi kerjasama tim.
  3. Menyeberangi Sunga Mamberamo (seolah2…) dengan menggunakan 2 buah balok dan 3 buah kotak. Nah di sini, kami juga gagal. Di games ini, kami dituntut untuk memikirkan strategi yg tepat untuk menyeberangkan 12 orang dengan peralatan yg telah saya sebut di atas. Harus ada yg berkorban, tergencet tergencet deh, harus ada yg memberi arahan, dan sisanya harus mau bekerjasama.
  4. Menyeberangi tali2 yg sudah dibentuk jaring persegi dan masing2 orang hanya boleh menempati satu tempat (duh susah njelasinnya >o<). Nah di sini mulai seru tuh. Karena tiap orang hanya boleh menempati satu kotak, maka taktik terbaik untuk menyelesaikan games ini adalah dengan mengangkat teman2 lain untuk mencapai kotak terjauh tanpa menyentuh tanah. Bayangkan, seumur2 saya belum pernah mengangkat cowok, tapi boro2 ngangkat cowok, untuk skinship pun selama setahun terakhir sudah saya batasi, tapi karena keadaan terpaksa, ya mau nggak mau saya juga harus berkontribusi sekuat tenaga untuk mengangkat mereka. Dan mereka, mau nggak mau juga harus bertahan untuk menjadi tumpuan/pijakan saya yg berat ini untuk sampai ke seberang jaring. Ini pengalaman tak terlupakan, yg mungkin akan saya ceritakan ke keturunan saya kelak. :’)
  5. Memindahkan botol yg berisi air hanya dengan selembar karpet dengan lintasan pacu(?) yg penuh dengan ranjau bola2 warna-warni. Di sini juga gagal, cuy. Mungkin karena semuanya sudah capek, saya sendiri juga telah merasa lelah, fisik dan mental, dan makin diperparah karena waktunya mepet banget. Bola2 ranjaunya juga banyak banget. Dan karpet terbangnya nggak mau nurut sama perintah kami. Grrrr…
  6. Memasukkan bola ke dalam keranjang dengan menggunakan pipa pralon yg sudah dibelah dua. Nah di sini nyaris sukses. Kami berhasil memasukkan 3 buah bola plastik ke dalam keranjang, namun apa daya, waktunya mepet, jadi gagal maning-gagal maning deh.

Nah, kalau games hari kedua itu ada:

IMG_1922

  1. Game mengisi sudut2 bintang. Di sini kami dituntut untuk berpikir out of the box untuk menentukan taktik penyelesaian games. Kami gagal lagi di sini. 😦
  2. Magic stick yg menyebalkan. Nah, ini dia yg paling menyulut api amarah di antara kami (bukan hanya kami sih, kelompok lain juga pake acara marah2an pas game ini). Inti dari game ini adalah, fokus pada instruksi. Di sini kita dilatih untuk fokus dan mendengarkan serta mengikuti instruksi teman yg bertanggungjawab sebagai pemberi instruksi.
  3. Melipat tenda biru dengan kaki. Di sini bentuk kami udah abstrak. Udah main peluk2an, injek2an, gepeng2an, dan sebagainya.
  4. Electric-web. Di games ini nyaris seluruh anggota kelompok digotong bersama2, termasuk saya, untuk melewati jaring laba2 yg nggak boleh tersentuh sedikitpun.
  5. Menghitung pola selang-seling. Game ini membutuhkan ketelitian sih, mirip2 sama game  menyeberangkan kanibal-manusia yg ada di komputer.
  6. Game memindahkan air suci(?) melalui rintangan pipa2 dengan menggunakan bantuan meja-hidup (badan2 kami maksudnya :p ). Di sini kami harus rela tiarap dan guling2an, pegang2an tangan, injek2an, demi mencapai target kami.

IMG_1926

Fiuhh…

Selain keduabelas games seru (yg namanya saya karang seenak mungkin) di atas, ada 3 macam lomba lagi yg menjadi selingannya, yaitu lomba yell2, lomba membangun bangunan u/ menahan telur yg dijatuhkan darr ketinggian sekian dan sekian dengan mulus, dan lomba membangun menara anti-prahara.

DSC_0212

Selain games, ada pesta(?) api unggun di malam pertama. Jadi, kami berkumpul, berpegangan tangan dan berangkulan mengelilingi api unggun di tengah2 lapangan upacara KNPK. Nah di acara ini kami menyanyikan beberapa lagu unik yg nanti akan saya posting liriknya (kurang kerjaan apa coba XD). Dan selain nyanyi2, kami juga disuruh menampilkan bakat (tiap kelompok beda2 penampilan bakatnya). Ada yg menampilkan aksi theatrical Potong Bebek Angsa, ada yg menampilkan acara Bukan 4 Mata dengan bintang tamunya Syahrima dan disela oleh iklan PMS (Pegawai Makan Salak + Tori-tori), ada yg menampilkan tarian dari berbagai macam daerah di Indonesia, ada yg menampilkan acara gombal2an, ada yg menampilkan acara hipnotis, dan kelompok kami menampilkan video klip Raiso w/ Tim Rapopo dengan lagunya “Firasat”.

Pada akhir acara di hari kedua, ada acara lempar2an air. Jangan salah, kami tidak ikutan melempar bola2 air, tapi kami lah yang menjadi sasaran lemparan air bah itu. Dan setelah acara basah2an berakhir, berakhir pula kebersamaan kami dengan Tim Cherokee Adventure.

Di hari2 DTU setelahnya, rutinitas yang kami lakukan, antara lain:

  • Jam 5.15 sudah harus ngumpul di lapangan untuk senam komando (sikap pokok, satu-dua-tiga-satu/satu-dua-tiga-limabelas, siswa! *yg peserta DTU pasti ngertilah maksud saya*) kadang lari juga, setelah itu ada push-up, sit-up, dan gaya lilin 90-45-15 derajat yg menyiksa sekali. Hehe..
  • Jam 7.15 sarapan pagi
  • Jam 7.45 apel pagi
  • Jam 8-jam 5 sore itu kegiatan dalam kelas (motivasi, budaya organisasi, kepatuhan internal, kepegawaian, dan service excellent)
  • Jam 10 pagi dan 4 sore ada coffee break
  • Jam 12.00-jam 1 siang itu istirahat sholat, makan siang, dan elek2an
  • Jam 6.30 malam itu makan malam
  • Jam 7.20 malam sampai jam 10 lewat itu ada kegiatan fisik (baris berbaris, lari2 malam, dan sesi curhat :’))

Selain rutinitas di atas, ada juga kegiatan tiba2 seperti alarm stelling yg diagendakan pelatih sebagai latihan untuk bersikap gesit, lincah, cekatan, dan selalu siap sedia jika ada serangan udara (ini bisa diandaikan sebagai tugas yg tiba2 datangnya, atau apalah namanya…).

Alarm stelling pertama itu dilakukan pada malam hari pukul 11.30 (seingat saya saat itu malam minggu deh…). Saat itu saya masih berpakaian lengkap (kaos olahraga+celana training+jilbab+nametag+kaos kaki), topi di sebelah kiri, protab dan sepatu di samping tempat tidur. Teman kamar saya, Ane, juga masih berpakaian lengkap. Kami berdua saat itu sudah dalam posisi siap tidur (sejak 2 hari sebelumnya, kami sudah berpakaian seperti itu untuk tidur, semenjak ada gosip bakalan diadakan alarm stelling). Saat Ane sudah terlelap, dan saya masih tilawah, tiba2 suara sirine berbunyi. Saya kaget, Ane pun kaget. Saya teriak “Allahuakbar! Ane! Alarm stelling!” dengan paniknya sambil bergegas memakai topi, sepatu dan ransel. Dalam waktu 2 menit, kami diharuskan tiarap di pos penjagaan masing2. Gimana nggak panik coba, pos kami ada di lapangan depan asrama, sedangkan kamar kami ada di lantai 2 (ada yg di lantai 3 juga), dan kami ber-72 orang secara serempak harus segera berlari menuju pos penjagaan melalui tangga yg tidak cukup lebar untuk kami semua. Saking paniknya kami saat itu, ada yg lupa memasukkan peralatan lengkap ke dalam protabnya, ada yg lupa pakai kaos kaki, ada yg masih memakai piyama, dan ada juga yg masih memakai sarung, coy! Semuanya panik. Semuanya heboh. Tapi, setelah itu kami tertawa bersama2. Ahh.. terlalu banyak yg harus diketik disini jika saya menceritakan apa saja yg kami rasakan dan tertawakan saat itu.

Alarm stelling kedua dilakukan pada hari minggu jam 12.30 siang. Walaupun tidak seheboh yg pertama, tetap saja alarm stelling ini membuat kami panik, namun bahagia. Agak aneh sebenarnya kami ini, oksimoron.

Selama DTU, rutinitas ini sebenarnya membuat saya sangat lelah secara fisik dan mental, dan awalnya saya pikir saya akan sangat jenuh menghadapi rutinitas ini. Tapi ternyata saya salah. Saat saya mengetikkan memori2 ini, saya ternyata masih sangat kangen dengan momen2 yg ada selama DTU. Saya masih mengingat jelas beberapa momen2 lucu saat DTU, saat Zaza ulang tahun, saat Bang Sam dikerjain waktu ultahnya oleh 3 orang Pelatih (disuruh koprol lah, dan siap2 jalan jongkok lah), saat bareng2 ngapalin lagu2 penyemangat, dll. Saya kangen dengan suasana ruang makan yg awalnya rame namun mendadak senyap karena ada duduk siap, saya kangen dengan pelatih2 yg awalnya saya pikir galak ternyata baik2 hatinya, saya kangen dengan alarm stelling yg tak disangka tiba2 datangnya, saya kangen menyanyikan lagu2 penyemangat (saya bakal nge-post liriknya juga) tiap kami gerak jalan/lari2, dan saya kangen ikan & paru goreng!

Ahh.. bahagianya masa2 itu. :’)

Istilah2 yg beken(?) selama DTU (yg saya ingat):

  • Jangan elek2an!
  • Royal!
  • Lektop!
  • Mulutnya mbak, dikurangi.
  • Ambil jatah!
  • Sikap pokok, siswa!
  • Gue anterin! (Jargonnya kelompok Teletubbies waktu outbond)
  • Ayam setengah lencang kanan.
  • Kurang satu!
  • Ke kanan dua langkah, jalan!
  • Pagi! Pagi! Pagi!
  • Ada! Ada! Ada!
  • Hyp errrr…

Dan di akhir DTU kami harus mengikuti ujian kompre. Sebelum ujian ada ceramah umum dari KPK. Dan sebelumnya lagi ada lomba yell2 dan lomba baris-berbaris. Ujian kompre-nya sih sebenarnya mudah, tapi saat itu karena waktunya mepet dan bahannya banyak, jadi lah belajar saya kurang satu!

Dan Alhamdulillah, hasil ujian DTU cukup memuaskan karena kami lulus semua (pengumuman hasil ujian diumumkan 3 minggu setelah ujian berakhir). Hasil lomba juga cukup memuaskan karena kelompok saya (Kelompok II) mendapat juara ke-tiga dari tiga kelompok. ^^

Dan dengan pengumuman lomba tersebut, berakhir juga kronologi DTU ini. Saya bingung mau menutup dengan kalimat apa, karena sebenarnya kisah diklat ini masih berlanjut ke DTSD yang akan saya ceritakan di posting-an yg lain. Ya sudahlah ya.. Biarkan saya menarasikan dulu momen2 DTSD yg saya ingat sebelum menuangkannya ke dalam posting­-an.

Terimakasih telah membaca cerbung-nonfiksi saya. Mohon maaf jika ada salah kata. Kesempurnaan itu hanya milik Allah Subhanahu Wata’ala, dan kekhilafan itu milik saya.

Sekian dan terimakasih.

Advertisements

One thought on “Aku Bangga Masuk Diklat TU Kita!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s