HIJRAH

62192_10151244067704800_274933756_nHijrah secara bahasa berarti berpindah. Sedangkan secara sejarah, hijrah berarti suatu peristiwa perpindahan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, dari Mekkah menuju Yastrib (Madinah). Syarat seseorang dikatakan berhijrah (sesuai makna hijrah secara bahasa) ada 2, yaitu ada yang ditinggalkan dan ada tujuannya.

Pada masa hijrahnya Rasulullah dan para sahabatnya dulu, mereka mempunyai satu tujuan yang menjadi dasar hijrahnya mereka, yakni mempertahankan akidah. Tidak hanya perpindahan fisik saja yang dilakukan, namun umat Muslim saat itu juga melakukan perpindahan/perubahan diri, dengan sungguh-sungguh menjalankan syariat Islam yang telah diperintahkan oleh Allah dan diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Tulisan ini, mungkin akan membosankan bagi pembaca yang tidak menyukai artikel-artikel panjang. Hentikan membaca saat ini juga, sebelum mata anda lelah. Karena, saya akan mulai curhat lagi, tentang hijrah saya, fisik dan rohani. Dan yang masih betah membaca, saya tidak melarang anda untuk melanjutkan. Yang perlu saya ingatkan, saya bukan orang yang paham sekali tentang agama, saya baru mulai belajar. Dan yang akan saya ceritakan merupakan kisah dan hikmah yang bisa saya maknai selama proses belajar itu. Selamat membaca, and brace yourself..

Sepanjang ingatan saya, saya sudah mengalami perpindahan fisik, dari satu tempat ke tempat lain, berkali-kali.

Pada umur 2 tahun, emak saya membawa saya merantau ke sebuah tempat nun jauh di Sumatera sana, Sungai Bella (mungkin singakatan dari Mabella –jauh dalam bahasa Bugis – yaa kalii…), dalam rangka menyusul bapak saya yang sudah merantau lebih dulu di sana. Pada umur 3 tahun lebih (4 tahun, yang sering saya katakan), setengah tahun setelah kelahiran adik perempuan saya, nenek (almh.) saya membawa saya kembali ke kota kelahiran saya, Makassar.

Di Makassar, saya tinggal dan tumbuh di sebuah rumah dinas di kompleks AL sampai akhirnya kami harus pindah saat saya berumur 5 tahun lebih, ke sebuah daerah di pinggiran Makassar. Kami berpindah tempat karena masa tinggal kami di rumah dinas itu sudah habis, kakek saya sudah pensiun, dan pindahlah kami ke Sudiang nun jauh dari pusat kota. Perpindahan ini telah samar di benak saya, yang saya ingat, saya banyak menangis karena ketakutan tidak akan mempunyai teman main di tempat baru.

Masa SD dan SMP, sebagian besar saya habiskan di rumah itu. Saat memasuki masa SMA, saya mulai tinggal di Asrama sekolah selama 3 tahun. Saat masuk SMA, perubahan besar pertama saya lakukan pada diri saya. Saya mulai berjilbab. Awalnya pakai jilbba bukan karena Allah sih (maaf ya Allah), tapi karena saya tersindir atas ucapan salah satu teman SMP saya. Tapi kalau tidak disindir seperti itu, mungkin sampai sekarang saya belum juga berjilbab. Terima kasih, teman. 🙂

Masuk masa kuliah, saya sempat merasakan kehidupan sebagai anak kos selama kurang lebih 1 semester. Semester 1 berlalu, dan saya kembali jadi penghuni tetap lagi di rumah kakek (alm.). Perpindahan berikutnya saya alami saat telah memasuki semester 3 di dunia kampus. Karena satu dan lain hal, nenek (almh.) dan tante saya pindah ke Tanjungpinang, ke rumah orang tua saya. Saya sendiri, harus tinggal di rumah om saya. Perpindahan ini masih jelas dan terang di benak saya. Saya ingat, saya menangisi banyak hal. Saya ingat, saya merisaukan banyak hal. Dan karena perpindahan ini, banyak hal yang terjadi dan berubah, pada lingkungan saya,pada keluarga saya, dan pada saya sendiri.

Di rumah om saya, saya belajar hal-hal baru yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Saya belajar bagaimana harus bersikap dan bertingkah selama tinggal di rumah om. Saya belajar untuk mandiri walaupun tinggal di rumah keluarga. Jangan bandingkan rasanya tinggal dengan orangtua, dengan nenek, dan dengan keluarga lain, tentunya berbeda sekali. Proses berpindah kali ini membuat saya sadar, selama saya hidup di dunia ini, saya tidak boleh merasa terlalu nyaman terhadap segala sesuatu.

Dulu, saya merasa sangat nyaman tinggal di rumah Kakek (alm.), saya berpikir, keadaan akan sama saja seperti itu, 10 atau 20 tahun ke depan. Saya tidak mempersiapkan bekal untuk menghadapi perubahan masa depan! Dan karena rasa nyaman itu, saya merasa sangat berduka saat terpaksa harus meninggalkan rumah saya banggakan itu.

Perpindahan selanjutnya terjadi pada tahun 2010, saat nenek (almh.) dan tante saya kembali dari Tanjungpinang, dan kami pindah kembali ke rumah lama kami. Perasaan berpindah kembali saat itu sulit digambarkan. Bittersweet. Di satu sisi saya senang bisa kembali ke rumah itu, namun di sisi lain ada memori yang tidak menyenangkan yang selalu menghantui saya selama menempati rumah itu lagi. Perpindahan kali ini merupakan turning point saya dalam memperbaiki diri di tahun-tahun berikutnya.

Hijrah rohani saya terjadi saat tante saya menawari saya untuk berangkat Umrah. Entah amalan apa yang pernah saya lakukan atau amalan apa yang pernah orangtua dan nenek-kakek (alm.) saya lakukan, sehingga saya mendapatkan kesempatan diundang Allah ke rumah-Nya itu. Dan Alhamdulillah, pada Maret 2012, saya akhirnya berkunjung juga ke dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah.

Selama wisata rohani tersebut, banyak teguran dan pelajaran yang saya dapatkan di sana. Saya ditegur dengan cara yang tidak disangka, saat saya berusaha memasuki Raudhah dengan niat yang tidak benar, saya malah ditegur dengan dipertemukan dengan seorang nenek yang meminta untuk dipapah menuju Raudhah – dan niat saya untuk masuk Raudhah dengan jalan pintas, gagal. Saya ditegur saat lidah saya ini berbuat ulah lagi. Saya diuji saat berusaha mencium Hajar Aswad. Saya diuji dengan harta berlimpah disaat saya tidak berniat untuk belanja. Semuanya saya anggap sebagai bentuk kasih sayangnya Allah yang masih mau mengingatkan saya lewat teguran dan ujian. Pengalaman Umrah pertama, membuat saya lebih disiplin untuk sholat 5 waktu, membuat saya berusaha menahan lidah saya untuk menyakiti orang lain, membuat saya – selalu dimanapun dan kapanpun – untuk bergantung dan meminta hanya kepada Allah.

Maka segeralah (berlari) kembali mentaati Alloh.” (Adz Dzariyaat: 50)

Perpindahan saya, belum berakhir. Perpindahan berikutnya yaitu hijrahnya saya pada tahun 2013 ke tempat orangtua dan adik-adik saya, Tanjungpinang. Di sini, saya mulai belajar memperbaiki diri. Jilbab yang biasanya saya pakai sekenanya, mulai saya pakai dengan benar, menutup dada. Jilbab yang biasanya saya pakai saat akan bepergian, mulai saya gunakan juga saat menjemur atau sekedar nongkrong di depan rumah. Kaos kaki, juga mulai saya gunakan saat akan bepergian. Gelungan rambut saya yang biasanya tinggi, mulai saya tinggalkan dan beralih dengan mengepang rambut saya dan memasukkannya ke dalam baju. Lebih aman, lebih nyaman. Dan di sini, saya mulai belajar tentang Islam, dari nol. Yaa.. dari nol. Coba bayangkan, saya sudah hidup lebih dari 20 tahun namun pengetahuan agama saya sangatlah minim. Ini membuat saya mempertanyakan ke-Islam-an saya. Mungkinkah saya mengaku Islam lantas tidak mengetahui apa itu Islam? Sungguh terlalu! Ckckck..

“Jikalau seorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas-gegas.” (Riwayat Bukhari)

Hadits Qudsi di atas terbukti benar. Saya merasakannya sendiri. Semakin saya berusaha mendekat kepada Allah, berat memang rasanya, namun selalu ada balasan yang lebih baik yang diberikan Allah kepada saya. Allah memang Maha Baik.

Di saat saya ingin lulus kuliah bersamaan dengan sahabat-sahabat saya, Allah memberikan penundaan kelulusan kepada saya. Dibalik penundaan itu, ternyata Allah ingin memberikan saya kesempatan mengunjungi rumah-Nya, dan juga memberikan saya waktu yang cukup untuk benar-benar menggarap skripsi saya. Sehingga, skripsi saya saat itu bukan menjadi skripsi asal jadi yang tidak berkesan di kepala saya.

Di saat saya ingin bekerja di suatu perusahaan swasta, Allah tidak mengabulkan keinginan saya itu. Allah malahan memberikan saya kesempatan menjadi tenaga honorer di Komisi Informasi Kepri. Dibalik kegagalan itu, ternyata Allah ingin memberikan saya pelajaran tentang rasanya gagal, dan hal ini berpengaruh besar terhadap cara saya menyikapi kegagalan-kegagalan kecil di hidup. Selain itu, mungkin Allah tidak membiarkan saya bekerja di sektor swasta karena Allah Maha Tahu bahwa saya tidak mampu bekerja dikejar-kejar target, sesuatu yang dituntut jika bekerja di sektor swasta.

Dan di saat saya mulai galau akan masa depan karir saya, Allah memberikan saya kado yang membahagiakan, saya diterima di DJKN, Kementerian Keuangan. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan akan terjadi. Dari 120ribu pendaftar, ada nama saya ikutan nyempil di deretan 1400 orang yang lulus sampai tahap akhir. Masya Allah.

Dan karena kelulusan itu, saya harus berhijrah (aka merantau) lagi ke ibukota ini, Jakarta. Semenjak di sini, ada satu hal lagi yang saya tambahkan di dalam agenda perubahan diri saya, yaitu mengaji dengan rutin. Sejak masuk ke komunitas ODOJ (One Day One Juz), saya yang dulunya jarang mengaji, sekarang, berusaha rutin menyelesaikan 1 juz bacaan, tiap hari. Mungkin untuk orang-orang yang rajin mengaji,ini adalah perkara biasa, tapi untuk saya, ini luar biasa. Saat khatam pertama di bulan pertama, saya menangis saking terharunya. Allah Maha Baik karena masih mau menuntun saya bertemu teman-teman ODOJ saya yang sangat semangat tilawah. Merekalah yang membantu meningkatkan motivasi saya untuk mengaji, setiap hari.

Dan sampai saat ini, saya telah memasuki bulan ketiga di komunitas ODOJ. Cara mengaji saya yang sangat tersendat-sendat di awalnya, kini mulai berubah, mulai sedkit lancar, wlaaupun saya yakin,tajwidnya belum benar. Saya berharap di waktu-waktu dekat nanti, bukan hanya sekedar mengaji, tapi juga, saya bisa mengamalkan program One Day One Ayat, yaitu program menghapal Al-Qur’an.

Doakan saya, pembaca yang budiman (kalau kalian berhasil membaca tulisan ini tanpa menyekipnya.. hehe..), supaya saya makin diberi kekuatan untuk mendekat kepada Allah. Doakan saya juga, agar hidup saya senantiasa diberkahi, dan diberikan akhir yang happy ending, dunia akhirat. Dan semoga anda, siapa saja yang membaca tulisan ini, diberikan keberkahan juga. 🙂

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim ialah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Alloh.” (HR. Bukhori dan Muslim)

Umat Muslim di jaman Rasulullah mendapatkan banyak keberkahan saat mereka berhijrah dulu, mereka mendapat keberkahan di tanah baru yang subur, dan mereka mendapatkan kemenangan di tiap peperangan melawan kafir Qurays dan antek-anteknya. Kalau mereka tidak berhijrah saat itu (berdasarkan perintah Allah), mungkin, saat ini Islam tidak akan berkembang seperti ini.

Dan berdasarkan faktor sejarah dan keyakinan saya terhadap janji Allah di hadits Qudsi di atas, saat ini, saya masih terus berusaha dan berupaya untuk memperbaiki diri. Saya ingin memiliki bekalyang cukup untuk mendapatkan akhir yang baik, saya ingin selamat dan bahagia dunia akhirat, saya ingin berdiri rapat dengan manusia lain bersama dengan Rasulullah SAW di padang Mahsyar kelak, dan saya sangat ingin bertemu Allah dengan keadaan baik.

Kuatkan hamba untuk terus menerus berjalan ke arah-Mu, ya Allah.

—————-
Sumber Quote:

http://www.hidayatullah.com/read/2013/11/04/7133/sambut-hijrah-dengan-perubahan-diri-secara-total.html
http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/hijrah-kepada-allah-dan-rasul-nya.html
http://qurandaily.org/haditsweb/riyadush_shalihin/bab011.htm

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s